Saat ini saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman baru saya menjelajah ujung Pulau Sulawesi Desember lalu,,,, let see my story :)
Makassar,,, ibu kota dari Sulawesi Selatan, walaupun kalau di three letter code tiket pesawat lebih di kenal dengan Ujung Pandang. Pertama kali saya menginjakan kaki di tanah Sulawesi dan langsung di sambut dengan hujan besar yang mengguyur seharian. Perjalanan dimulai dari Jakarta, 21 Desember 2011 dengan menaiki Bus menuju Surabaya. Keesokan hari melanjutkan lagi perjalanan dari Surabaya menuju Makassar, 23 Desember 2011 dengan penerbangan pagi. Walaupun masih mengantuk karena jam 6 pagi paling telat sudah harus sampai Bandar Udara Juanda, tapi semangat untuk menuju Makassar. Sampai di Makassar, langsung di jemput Lucky, Devy, Lily dan Indah, walaupun menunggu agak lama. Karena pagi hari perut lapar,, jadi langsung mencoba kuliner unik dari kota ini. Kemudian saya pun mencoba yang namanya Mie Titie yang ada di dekat Unhas. Awalnya sih agak bingung dan aneh liat penampilan Mie Titie. Tapi setelah dicoba, ternyata rasanya enak juga, mungkin karena efek perut yang lapar juga sih.
Setelah itu, seharian di Unhas dan hanya melihat pemandangan hujan yang turun saja. Malamnya saya kembali bersantap Coto Makassar di Paraikate dekat Unhas. Pertama kali seumur hidup ini merasakan yang namanya Coto Makassar. Ternyata rasanya enak. Sayang lupa di foto saking lahapnya makan. Sekitar jam 11 malam waktu Makassar, saya dan teman - teman melanjutkan perjalanan menuju Tana Toraja. Dengan menggunakan 3 bus, kami semua berangkat menuju Toraja selama 8 jam perjalanan. Sampai di Toraja pagi hari dan langsung menuju penginapan. Setelah istirahat, maka di mulailah kegiatan pertama disana yaitu Diskusi Nasional IMIKI mengenai Penguatan Internal IMIKI. Acara berlangsung sampai malam hari dan memang bertepatan sekali kegiatan IMIKI ini bersamaan dengan malam Natal di Toraja. Selesai kegiatan, kami semua berkumpul di Bundaran Lakipadada di depan DPRD Toraja untuk menyaksikan pesta kembang api di Malam Natal. Biarpun saya tidak merayakan Natal, tapi melihat suasanan Natal yang semarak disana, sungguh suatu pengalaman baru dan menyenangkan. Satu hal yang perlu di tiru dan di teladani dari masyarakat Toraja. Walaupun agama Nasrani menjadi yang mayoritas disana, tapi mereka tetap mengedepankan toleransi beragama. Pada malam Natal, seluruh Gereja ramai untuk menyanyikan senandung pujian pada Kristus, tapi begitu adzan Maghrib berkumandang, suasana Misa Natal menjadi hening sejenak dan lanjut kembali setelah adzan selesai berkumandang. Terulang pula pada adzan Isya. Sungguh suatu teladan yang perlu di teladani terutama bagi kita yang tinggal di kota - kota besar.
Keesokan harinya, perjalanan saya pun berlanjut menuju Londa. Londa adalah areal kuburan batu milik keluarga yang kini sudah di buka menjadi tempat wisata agar pengunjung dapat melihat secara langsung seperti apa tradisi pemakaman yang berlangsung di Toraja yang sudah di kenal keunikannya di dunia. Masyarakat Toraja benar - benar berusaha menyempurnakan kematian. Karena dengan menyempurnakan kematian orang - orang yang mereka sayangi, maka sekaligus mereka juga berbagi kepada masyarakat sekitar. Masyarakat Toraja biasa menyimpan jenazah keluarga mereka di dalam rumah Tongkonan sebelum di kuburkan di tebing - tebing batu. Setelah mereka punya cukup uang, maka kewajiban keluarga yang masih hidup lah untuk mengadakan pesta kematian keluarga mereka yang telah tiada. Tidak lupa pula untuk memotong sejumlah Tedong Bonga (Kerbau khas Toraja) dan juga babi yang nantinya akan di jadikan persembahan dalam pesta kematian tersebut. Menurut masyarakat Toraja, semakin tinggi kasta orang yang akan mengadakan pesta kematian tersebut, maka semakin banyak pula Tedong dan babi yang akan di persembahkan dan semakin menelan biaya yang besar pula. Selain itu, semakin dia bangsawan, maka jenazah tersebut akan di tempatkan di tebing yang paling atas pula. Penjelasan ini juga saya dapat dari seorang ibu yang kebetulan suaminya di makamkan di tebing yang paling atas (artinya dia bangsawan).
![]() |
Replika boneka para jenazah yang di makamkan di Londa. Mereka ini adalah satu keluarga dan mereka juga keturunan bangsawan Toraja. |
Perjalanan saya dan teman - teman berlanjut menuju Ketekesu. Sebenarnya Ketekesu dan Londa tidak jauh berbeda. Sama areal pemakaman untuk orang Toraja. Tapi di Ketekesu ini terdapat rumah - rumah Tongkonan yang dipercaya sebagai rumah Tongkonan pertama yang ada di Toraja ini. Dilihat dari rumahnya juga tampak sudah tua dan atapnya sudah dipenuhi dengan semak - semak. Menurut informasi yang saya dapatkan dari teman - teman saya yang asli Toraja, rumah Tongkonan ini mengambil bentuk dari perahu. Mereka meyakini bahwa dulunya Toraja ini berupa laut dan nenek moyang mereka yang datang pertama ke tempat ini tinggal di atas perahu. Maka dari itu, bentuk dari rumah Tongkonan mengambil bentuk perahu. Ketekesu juga terdapat peti - peti usang yang berisi tengkorak dari jenazah yang sudah lama di letakkan disana. Kalau bisa di bilang sebenarnya cukup menyeramkan juga naik ke atas bukit tapi di sebelah kiri terdapat tengkorak manusia yang berserakan, tapi itu juga satu hal yang menarik menurut saya. Karena memang datang ke Toraja seperti wisata ziarah dan adat budaya.
Perjalanan selanjutnya adalah menjelajah di Batutumonga. Tempat ini adalah daerah dataran tinggi di Toraja. Begitu sampai di puncak, maka kita dapat melihat pemandangan sekitar kota Rantepao. Jalan menuju puncak Batutumonga melewati areal persawahan dan terdapat batu - batu besar di sekitar areal persawahan tersebut. Namun batu - batu itu bukan hanya menjadi objek keindahan di sana, melainkan di manfaatkan pula sebagai warga sekitar sebagai tempat penguburan jenazah keluarga mereka. Batu tersebut di lubangi tengahnya dan di masukan lah jenazah keluarga mereka. Batutumonga sendiri menurut warga sekitar artinya batu - batu besar yang datang dari langit. Ukuran batunya memang luar biasa besar. Perjalanan menuju Batutumonga saya lewati dengan berkendara motor bersama teman - teman. Komentar saya hanya 1, this is the real travelling that i had dreaming. Sampai di puncak, saya, Irwan, Mba Cici, Bang Taro, Bang Opan, Bang Aslam, Mubin, Ipang dan yang lainnya langsung menikmati secangkir kopi toraja hangat sambil melihat pemandangan dari atas seperti berada di Negeri di Atas Awan. Begitu sampai puncak saya berucap, Subhanallah,, Alhamdulilah Ya Allah. Terima kasih atas alam Indonesia yang begitu indah yang telah di berikan pada bumi ini dan saya di beri kesempatan untuk menikmatinya. Sekilas melihat tulisan nama Allah tertoreh di awan. wuah,,, sungguh bersyukur saya. Setelah puas, kembali turun kebawah dengan suasana yang sudah gelap dan jalan licin sehabis hujan dan berkelok - kelok. Tapi inilah pengalaman tak terlupakan menurut saya.
![]() |
Peti jenazah tua yang tertata rapi di areal pemakaman Ketekesu. Peti jaman dahulu terbuat dari kayu dan bentuk tutupnya seperti atap rumah Tongkonan. |
![]() |
Masyarakat yang berkumpul di tengah lapang untuk melihat adu Tedong yang biasa dilakukan sebelum upacara Rambu Solo berlangsung. Kegiatan ini sangat menarik perhatian masyarakat sekitar. |
![]() |
Ikatan Mahasiswa Ilmu Komunikasi Indonesia (IMIKI) at Ketekesu, Tana Toraja. Minggu, 25 Desember 2011 |
Selanjutnya ada cerita mengenai penjelajahan saya dan teman - teman menikmati eksotisme Bantimurung kab. Maros, Sulawesi Selatan. Dan tidak lupa berwisata kuliner. Tunggu ceritanya besok.
Selamat Menikmati cerita saya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar